Instrumen Tes Kemampuan
Fisik
Menurut Johnson dan Nelson (1969:1) “Tes adalah suatu bentuk dari suatu
pertanyaan dan atau pengukuran, yang digunakan untuk memperkirakan ingatan dari
sutau pengetahuan dan kemampuan, atau untuk mengukur kemampuan gerak di dalam
aktifitas jasmani.” Kirkendal (1987) menyatakan bahwa, “tes adalah instrumen
yang digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang individu atau objek.”
Secara khusus tes yang
digunakan adalah tes prestasi. Winarno (2007:61) menyatakan “tes prestasi
adalah tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian prestasi seseorang setelah
mempelajari sesuatu.” Dalam halini tes prestasi yang dimaksudkan tes
kemampuan fisik sehingga instrumen ini masuk
kategori achievement test.
Sugiyanto (1993:66), menyatakan bahwa “kriteria pengukuran dikatakan baik
apabila memenuhi kriteria: instrumen pengukuran harus valid, reliabel, mudah
diadministrasikan dan ada norma penilaiannya”.
a. Kekuatan
otot tungkai, leg dynamometer
Untuk mengetahui
kekuatan otot tungkai dengan menggunakan tes leg dynamometer. Tujuan tes
adalah untuk mengukur kekuatan kelompok extensor tungkai. Pelaksanaan
tes : berdiri diatas tumpuan leg dynamometer, kedua lengan memegang bagian
lengan tongkat, pegangan setinggi bagian kemaluan, sabuk pengaman dililitkan
antara pinggang dengan kedua ujung tongkat pegangan. Gerakannya : tarik tungkai
dengan kedua tangan bersamaan dengan meluruskan kedua lutut, pada akhir gerakan
kedua lutut hampir lurus sepenuhnya. Penilaian yaitu hasil yang dapat dicatat
dari nilai tertinggi yang diperoleh selama melakukan tes sebanyak 2-3 kali.
Hasil masing-masing testee dapat dibaca pada petunjuk yang berada di atas
bantalan leg dynamometer.
b. Kekuatan
otot lengan. Pull and push dynamometer.
Tujuan: Untuk mengukur
kekuatan otot tangan dalam menarik dan mendorong. Alat: pull and push
dynamometer.Petugas: (1) pemandu tes dan (2) pencatat skor. Pelaksanaan: Testee
berdiri tegak dengan kaki direnggangkan dan pandangan lurus ke depan.
Tangan memegang pull & push dynamometer dengan kedua tangan di
depan dada. Posisi lengan dan tangan lurus dengan bahu. Tarik alat tersebut
sekuat tenaga. Pada saat menarik atau mendorong, alat tidak boleh menempel pada
dada, tangan dan siku tetap sejajar dengan bahu. Tes ini dilakukan sebanyak dua
kali. Penilaian: Skor kekuatan tarik atau kekuatan dorong terbaik dari dua kali
percobaan dicatat sebagai skor dalam satuan kg. dengan tingkat ketelitian 0,5
kg.
c. Daya
tahan otot perut. AAHPERD Modifield Sit-ups(AAHPERD 1980)
Untuk memperoleh data
daya tahan otot perut dilakukan dengan menggunakan instrumen tes sit-up,
Nelson (1986:132). Testee harus menempelkan kedua lengan di depan
dada dan melakukan sit-up dengan cara menyentuhkan siku kiri ke lutut kanan,
dan siku kanan ke lutut kiri. Gerakan tersebut dilakukan sebanyak mungkin.
d. Daya
tahan otot lengan. Modifield Push-up
Untuk memperoleh data
kekuatan otot perut dilakukan tes dengan
menggunakan instrument push-up, Nelson (1986:139). Posisi
awal: testee mengambil posisi tidur menelungkup dan menempatkan
telapak tangan di lantai di bawah dada testee. Kedua tangan testeeterletak
di lantai di bawah kedua bahunya, siku dipertahankan atau dikunci dalam keadaan
lengan diluruskan. Seluruh tubuh lurus, tidak ada bagian tubuh yang menyentuh
lantai kecuali kedua tangan dan tumitnya. Kedua kaki diregangkan sejauh 30
cm. Pelaksanaan: Testeemembengkokkan lengannya, badan diturunkan
sampai dadanya dapat menyentuh tangan penghitung dan dorong kembali ke posisi
awal. Tubuh harus tetap dipertahankan dengan lurus sepanjang melakukan
gerakan.Testee melakukan kegiatan sebanyak mungkin tanpa harus berhenti.
e. Daya
tahan otot tungkai. Half squat jump test
Untuk mengetahui daya
tahan otot tungkai dapat diketahui dengan tes squat jump, Nelson (1986:137),
pelaksanaan: orang coba berada pada sikap jongkok dengan salah satu tumit kaki
yang lainya berada di depan, sedangkan kedua tangan saling berkait diletakkan
dibelakang kepala, pandangan ke depan. Orang coba lemompat ke atas sehingga
tungkai lurus, lalu mendarat dengan berganti kaki ke depan dan ke
belakang,dengan posisi setengah jongkok (half squat). Gerakan ini dilakukan
berulang-ulang dengan sikap kaki bergantian sampai orang coba tak dapat
melompat lagi secara sempurna seperti ketentuan tersebut di atas.
f. Power
otot tungkai. Vertical Jump
Johnson dan Nelson
(1986:219), untuk mengetahui power otot tungkai masing-masing testee yaitu
dengan tes Vertical Jump. Tujuan tes adalah untuk mengukur power kaki
melompat ke atas. Tingkatan usia untuk tes ini adalah individu yang
berusia 6 tahun sampai usia perguruan tinggi. Tes ini baik dilakukan untuk
laki-laki dan perempuan.
g. Power
otot lengan. Two Hand Medicine Ball Put
Untuk memperoleh data
power otot lengan dengan cara atlet melakukan lempar bola medicine, yang
dalam hal ini diganti dengan menggunakan bola basket. Caranya dengan
menghitung jarak antara jatuhnya bola dengan tempat dudukatlet pada waktu
melempar, dengan satuan meter. Setiap atlet melakukan dua kali kesempatan
melempar bola, dan diambil yang terjauh dari hasil lemparanya. Nelson
(1986:214).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar